( Hasil Kiriman : Ibu Budi Purwani Randusari, Priskila Bulukerto dan Haryono Bulukerto)
Tanggal 25 Mei 2009 GKJ Purwantoro berusia 14 tahun. Menjadi gereja yang dewasa yang mandiri dan siap menghadapi tantangan zaman. Syukur kepada Tuhan yang senantiasa menyertai setiap perjalanan GKJ Purwantoro dengan suka dukanya yang dirasakan oleh 6 pepanthannya.
HEBAT & PEMBERANI
Ada yang berpendapat bahwa GKJ Purwantoro itu hebat dan pemberani. Hebat karena Purwantoro yang bisa dibilang daerah pedesaan dimana medannya begitu menantang, tetapi pelayanan boleh tetap berjalan. GKJ Purwantoro terdiri dari 800 jemaat dan dengan jumlah jemaat yang sebanyak itu hanya dipimpin oleh 1 pendeta. Apalagi untuk saat ini pendeta GKJ Purwantoro menjadi Sekum di Sinode dimana hampir semua waktunya habis di Sinode, tapi pemeliharaan jemaat di GKJ Purwantoro bisa diatasi oleh majelis. Di GKJ Purwantoro sangat minim pemain musik. Ya memang ada beberapa yang merelakam dirinya untuk ambil bagian di dalam melayani Tuhan tapi jumlahnya sedikit sekali, belum lagi kalau terbentur dengan ketidakhadiran mereka dalam ibadah atau kemungkinan terburuknya adalah seandainya mereka merantau. Tapi itu bukanlah penghalang, karena meskipun tanpa alat musik kita masih tetap bisa memuji dan menyembah Tuhan. Pemuda GKJ Purwantoro sebagian besar
merantau, tapi jarak bukanlah penghalang karena tetap terjalin komunikasi dan kerjasama dengan pemuda dan remaja yang masih di sini. Pemberani karena dilihat dari kondisi ekonomi yang minim, dimana seringkali kondisi keuangan defisit, tapi GKJ Purwantoro berani untuk melakukan pemanggilan pendeta ke-2. Dan justru sekarang sudah ada team khusus yang menanganinya.
ALLAH BESERTA KITA
Seperti cerita Musa yang butuh waktu 430 tahun untuk membawa bangsa Israel keluar dari Mesir, di situ nyata sekali bahwa Tuhan menyertai mereka, terbukti ketika permasalahan datang, Tuhan selalu memberi jalan keluar. Banyak cara yang bisa dilakukan untuk menjadikan GKJ Purwantoro ini menjadi lebih baik lagi. Misalnya tiap-tiap pepanthan harus membuat rancangan-rancangan, kira-kira target apa yang hendak di capai dalam satu tahun dan tentu saja harus tetep ada evaluasi. Selain itu harus ada komunikasi yang baik antar jemaat, majelis maupun dengan komisi yang ada. Janganlah kita memegahkan diri dalam kecongkakan tapi kita harus tetap berserah diri kepada Tuhan, dan Tuhan akan selalu menyertai kita. Biarlah rencana Tuhan yang boleh terjadi dalam diri kita ( Yakubus 5 : 15-16).
Semoga dengan bertambahnya usia juga berarti bertambah semangat untuk melayani Tuhan, sehingga banyak jiwa-jiwa yang dimenangkan, dan tentu saja bisa menjadi Garam dan Terang Dunia.
Selamat Ulang Tahun GKJ Purwantoro Yang Ke-14. Tuhan Memberkati (In@)
Tampilkan postingan dengan label opini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label opini. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 06 Juni 2009
Rabu, 01 April 2009
Natal atau Paskah??
Ketika Natal tiba, umat Kristiani sangat antusias untuk menyambutnya. Mereka rela mengeluarkan banyak uang untuk membeli pernik-pernik Natal, baju baru, kado yang spesial untuk keluarga dan juga membuat makanan yang sangat istimewa.
Tapi bagaimana ketika PASKAH tiba ? Apakah mereka juga melakukan hal yang sama ?????
Banyak orang mempunyai anggapan bahwa Natal jauh lebih penting daripada Paskah, sehingga perlakuan mereka terhadap Paskah juga sangat jauh berbeda dengan mereka memperlakukan Natal. Padahal Natal dan Paskah adalah satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan, keduanya saling berhubungan dan mempunyai makna yang sama-sama penting bagi kita semua.
Paskah berarti “Kemerdekaan” dimana kita sudah terbebas dari belenggu dosa, karena dosa kita sudah di tebus dengan pengorbanan-Nya di kayu salib (Efesus 1 :7). Dia telah merelakan diri-Nya untuk di salib, Dia rela tangan dan kaki-Nya di paku, Dia rela kepala-Nya dihadiahi mahkota duri. Penyaliban-Nya menunjukkan betapa mengerikan dosa itu dan betapa mahal harga yang harus dibayar untuk melepaskan kita dari hukuman dosa ( 1 Petrus 1 : 18, 19).
Itu semua semata-mata hanya karena kasih-Nya yang begitu besar bagi kita (Yohanes 3 : 16). Karena pengorbanan-Nya kita beroleh pengampunan dan keselamatan.
Lalu bagaimana sikap kita? Apakah kita akan tetap diam, dengan pola pikir yang lama? Apakah kita masih tetap ragu untuk mempercayai-Nya sebagai Juruselamat? Tentu tidak!
Saatnya kita untuk berubah. Kita adalah manusia baru dengan kehidupan yang baru juga.
Selamat Paskah……<>
Tapi bagaimana ketika PASKAH tiba ? Apakah mereka juga melakukan hal yang sama ?????
Banyak orang mempunyai anggapan bahwa Natal jauh lebih penting daripada Paskah, sehingga perlakuan mereka terhadap Paskah juga sangat jauh berbeda dengan mereka memperlakukan Natal. Padahal Natal dan Paskah adalah satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan, keduanya saling berhubungan dan mempunyai makna yang sama-sama penting bagi kita semua.
Paskah berarti “Kemerdekaan” dimana kita sudah terbebas dari belenggu dosa, karena dosa kita sudah di tebus dengan pengorbanan-Nya di kayu salib (Efesus 1 :7). Dia telah merelakan diri-Nya untuk di salib, Dia rela tangan dan kaki-Nya di paku, Dia rela kepala-Nya dihadiahi mahkota duri. Penyaliban-Nya menunjukkan betapa mengerikan dosa itu dan betapa mahal harga yang harus dibayar untuk melepaskan kita dari hukuman dosa ( 1 Petrus 1 : 18, 19).
Itu semua semata-mata hanya karena kasih-Nya yang begitu besar bagi kita (Yohanes 3 : 16). Karena pengorbanan-Nya kita beroleh pengampunan dan keselamatan.
Lalu bagaimana sikap kita? Apakah kita akan tetap diam, dengan pola pikir yang lama? Apakah kita masih tetap ragu untuk mempercayai-Nya sebagai Juruselamat? Tentu tidak!
Saatnya kita untuk berubah. Kita adalah manusia baru dengan kehidupan yang baru juga.
Selamat Paskah……<>
Selasa, 03 Februari 2009
Kasih Tulus dan Tanpa Syarat
Ada seorang gadis buta yang sangat membenci dirinya sendiri karena kebutaannya itu. Tidak hanya kepada dirinya sendiri, tetapi dia juga membenci semua orang kecuali kekasihnya. Kekasihnyalah yang selalu setia menemani, selalu mendampingi dan menghiburnya. Dan dia berjanji akan menikahi kekasihnya itu apabila dia sudah bisa
melihat dunia.
Suatu hari ada seseorang yang mendonorkan sepasang matanya kepada
gadis itu, sehingga gadis itu bisa melihat semuanya termasuk melihat
kekasihnya. Suatu saat kekasihnya itu bertanya, “ Sekarang kamu sudah bisa
melihat dunia, apakah kamu mau menikah denganku?” Gadis itu terguncang hatinya
saat melihat bahwa ternyata kekasihnya buta. Dan dia menolak untuk menikah
dengannya.
Lalu kekasihnya pergi dengan berlinang air mata. Dan dia menulis sepucuk
surat untuk gadis itu, “Sayangku, tolong jaga baik-baik mata saya”
Wow…Sungguh tragis kisah cinta mereka…. Peristiwa seperti itu mungkin
saat ini sudah bukan sesuatu yang baru lagi.
Dimana ada cinta (kasih) di situ pasti ada “pengorbanan”. Pengorbanan
yang bagaimanakah yang di maksud? Pengorbanan disini seringkali di salah artikan
yaitu meminta orang lain untuk memiliki kepribadian dan perilaku seperti yang
kita inginkan, ada syarat-syarat yang harus di penuhi. Padahal sikap seperti itu
lama-lama bisa membuat rasa tidak nyaman, menderita, merasa di rugikan dan
merasa teraniaya. Padahal arti pengorbanan yang sesungguhnya adalah bagaimana
kita bisa mengasihi orang lain dengan tulus dan tanpa syarat. Dan juga yang harus
di ingat bahwa pengorbanan tidak hanya berdasarkan perasaan saja tetapi harus
dengan logika juga.
Memang bukanlah hal yang mudah untuk bisa mengasihi orang lain dengan
tanpa syarat, tapi kita bisa meneladani Yesus, dimana Dia begitu tulus mengasihi
kita, Dia rela berkorban di kayu salib demi menebus dosa-dosa kita. Dia tahu,
dengan Dia mengorbankan diri-Nya, itu akan membuat kita akan lebih baik. Jadi
ketika kita sudah mengakui Yesus dan menerima pengorbanan-Nya seharusnya
kita juga bisa mencintai orang lain dengan tanpa syarat.
So, tunggu apa lagi, ayo kita belajar mengasihi dengan tulus dan tanpa
syarat. < IN@>
melihat dunia.
Suatu hari ada seseorang yang mendonorkan sepasang matanya kepada
gadis itu, sehingga gadis itu bisa melihat semuanya termasuk melihat
kekasihnya. Suatu saat kekasihnya itu bertanya, “ Sekarang kamu sudah bisa
melihat dunia, apakah kamu mau menikah denganku?” Gadis itu terguncang hatinya
saat melihat bahwa ternyata kekasihnya buta. Dan dia menolak untuk menikah
dengannya.
Lalu kekasihnya pergi dengan berlinang air mata. Dan dia menulis sepucuk
surat untuk gadis itu, “Sayangku, tolong jaga baik-baik mata saya”
Wow…Sungguh tragis kisah cinta mereka…. Peristiwa seperti itu mungkin
saat ini sudah bukan sesuatu yang baru lagi.
Dimana ada cinta (kasih) di situ pasti ada “pengorbanan”. Pengorbanan
yang bagaimanakah yang di maksud? Pengorbanan disini seringkali di salah artikan
yaitu meminta orang lain untuk memiliki kepribadian dan perilaku seperti yang
kita inginkan, ada syarat-syarat yang harus di penuhi. Padahal sikap seperti itu
lama-lama bisa membuat rasa tidak nyaman, menderita, merasa di rugikan dan
merasa teraniaya. Padahal arti pengorbanan yang sesungguhnya adalah bagaimana
kita bisa mengasihi orang lain dengan tulus dan tanpa syarat. Dan juga yang harus
di ingat bahwa pengorbanan tidak hanya berdasarkan perasaan saja tetapi harus
dengan logika juga.
Memang bukanlah hal yang mudah untuk bisa mengasihi orang lain dengan
tanpa syarat, tapi kita bisa meneladani Yesus, dimana Dia begitu tulus mengasihi
kita, Dia rela berkorban di kayu salib demi menebus dosa-dosa kita. Dia tahu,
dengan Dia mengorbankan diri-Nya, itu akan membuat kita akan lebih baik. Jadi
ketika kita sudah mengakui Yesus dan menerima pengorbanan-Nya seharusnya
kita juga bisa mencintai orang lain dengan tanpa syarat.
So, tunggu apa lagi, ayo kita belajar mengasihi dengan tulus dan tanpa
syarat. < IN@>
Minggu, 14 Desember 2008
GUNDAHNYA DUA HATI
Sekalipun tokoh Yusuf dan Maria ditempatkan sebagai tokoh yang cukup sentral dalam kisah Natal, namun siapa yang mencoba melakukan penghayatan terhadap gundahnya hati mereka (Yusuf dan Maria). Lho kenapa?? Sepasang kekasih tersebut harus menanggung sesuatu yang tak ringan atas ketaatannya pada Allah.
Coba bayangkan, alangkah sulitnya Maria untuk mempersiapkan kata-kata yang tepat bagi Yusuf-kekasihnya, bahwa dirinya hamil. Padahal mereka saling mengerti bahwa mereka belum melakukan hubungan suami-isteri. Tak mudah bagi seorang gadis (waktu itu) untuk membuka kondisi dirinya yang hamil sebelum nikah.
Saya pikir, Yusuf tak kurang gundah juga. Apa yang dipikirkan dan dirasakan seorang pemuda, jika gadis yang dikasihinya tiba-tiba hamil, padahal dengan kesadaran penuh Yusuf belum pernah berbuat kurangajar terhadap kekasihnya. Saya yakin, tentu ada kecewa, ada marah, dendam juga mungkin.
Sekalipun kegundahan hati sepasang kekasih itu pada akhirnya terjawab dan terselesaikan, namun kemampuan untuk mengelola kegundahan hati keduanya layak untuk diberikan pujian. Tak gampang bagi sepasang kekasih jaman ini untuk mengkomunikasikan segala permasalahan yang mereka hadapi sehebat Maria dan Yusuf.
Dalam “bahasa yang rohani” kunci keberhasilan mereka berdua untuk mengatasi kegundahan hati adalah berserah kepada Tuhan, dan mau taat. Jadi Natal juga kesempatan bagi kita untuk membebaskan segala kehundahan hati seperti Maria dan Yusuf. (Sri Sutardi)
Coba bayangkan, alangkah sulitnya Maria untuk mempersiapkan kata-kata yang tepat bagi Yusuf-kekasihnya, bahwa dirinya hamil. Padahal mereka saling mengerti bahwa mereka belum melakukan hubungan suami-isteri. Tak mudah bagi seorang gadis (waktu itu) untuk membuka kondisi dirinya yang hamil sebelum nikah.
Saya pikir, Yusuf tak kurang gundah juga. Apa yang dipikirkan dan dirasakan seorang pemuda, jika gadis yang dikasihinya tiba-tiba hamil, padahal dengan kesadaran penuh Yusuf belum pernah berbuat kurangajar terhadap kekasihnya. Saya yakin, tentu ada kecewa, ada marah, dendam juga mungkin.
Sekalipun kegundahan hati sepasang kekasih itu pada akhirnya terjawab dan terselesaikan, namun kemampuan untuk mengelola kegundahan hati keduanya layak untuk diberikan pujian. Tak gampang bagi sepasang kekasih jaman ini untuk mengkomunikasikan segala permasalahan yang mereka hadapi sehebat Maria dan Yusuf.
Dalam “bahasa yang rohani” kunci keberhasilan mereka berdua untuk mengatasi kegundahan hati adalah berserah kepada Tuhan, dan mau taat. Jadi Natal juga kesempatan bagi kita untuk membebaskan segala kehundahan hati seperti Maria dan Yusuf. (Sri Sutardi)
Rabu, 06 Agustus 2008
MERDEKA ATAU MATI
Merdeka atau mati!! yel-yel itu sering dikumandangkan oleh pejuang-pejuang kita dahulu. Bila kita disuruh memilih merdeka atau mati maka kita harus memilih kedua-duanya, maksudnya merdeka dalam Kristus dan mati dari belenggu dosa. Kita sebagai orang Kristen juga sudah di "merdeka"kan oleh Kristus melalui pengorbanan-Nya di kayu salib (Roma 6 : 18). Sebagai orang yang merdeka dalam Kristus, kita harus merdeka dari belenggu dosa. Tapi terkadang kita tidak sadar justru kita menjadikan dosa sebagai teman akrab, dan hal itu membuat kita tidak peka lagi terhadap arti hidup merdeka yang sebenarnya.
Dosa tidak hanya kelihatan secara fisik tapi juga melalui pikiran dan karena seringnya kita jatuh dalam dosa, kita menganggap itu hal biasa dan saat itulah kita sebenarnya menghambakan diri sebagai "budak" dosa (Yoh 8 : 34). Untuk bisa keluar dari "Budak" dosa bukanlah hal yang tidak bisa dicapai, namun diperlukan usaha-usaha dan kemauan.Satu-satunya cara agar kita bisa tetap "merdeka" dalam Kristus adalah dengan hidup melekat dengan Tuhan.
Hal-hal yang bisa kita lakukan agar bebas dari "budak" dosa antara lain :
a. Baca Alkitab setiap hari, karena hidup rohani kita memerlukan "makanan rohani" (1 Pet 2 : 2)
b. Berdoa senantiasa,karena doa adalah sumber kekuatan (Mat 21 : 22 )
c. Datang ke gereja dan persekutuan secara teratur
d. Hidup dalam kasih (1 Kor 13 : 4-7)
e. Hidup dengan setia. Kita belajar untuk setia kepada Kristus dalam segala keadaan (Efesus 6 : 16)
Jadi merdeka dalam Kristus bukan hanya angan-angan semata. Merdeka !!!!!!! (Ina)
Dosa tidak hanya kelihatan secara fisik tapi juga melalui pikiran dan karena seringnya kita jatuh dalam dosa, kita menganggap itu hal biasa dan saat itulah kita sebenarnya menghambakan diri sebagai "budak" dosa (Yoh 8 : 34). Untuk bisa keluar dari "Budak" dosa bukanlah hal yang tidak bisa dicapai, namun diperlukan usaha-usaha dan kemauan.Satu-satunya cara agar kita bisa tetap "merdeka" dalam Kristus adalah dengan hidup melekat dengan Tuhan.
Hal-hal yang bisa kita lakukan agar bebas dari "budak" dosa antara lain :
a. Baca Alkitab setiap hari, karena hidup rohani kita memerlukan "makanan rohani" (1 Pet 2 : 2)
b. Berdoa senantiasa,karena doa adalah sumber kekuatan (Mat 21 : 22 )
c. Datang ke gereja dan persekutuan secara teratur
d. Hidup dalam kasih (1 Kor 13 : 4-7)
e. Hidup dengan setia. Kita belajar untuk setia kepada Kristus dalam segala keadaan (Efesus 6 : 16)
Jadi merdeka dalam Kristus bukan hanya angan-angan semata. Merdeka !!!!!!! (Ina)
Langganan:
Postingan (Atom)

