Minggu, 14 Desember 2008

GUNDAHNYA DUA HATI

Sekalipun tokoh Yusuf dan Maria ditempatkan sebagai tokoh yang cukup sentral dalam kisah Natal, namun siapa yang mencoba melakukan penghayatan terhadap gundahnya hati mereka (Yusuf dan Maria). Lho kenapa?? Sepasang kekasih tersebut harus menanggung sesuatu yang tak ringan atas ketaatannya pada Allah.
Coba bayangkan, alangkah sulitnya Maria untuk mempersiapkan kata-kata yang tepat bagi Yusuf-kekasihnya, bahwa dirinya hamil. Padahal mereka saling mengerti bahwa mereka belum melakukan hubungan suami-isteri. Tak mudah bagi seorang gadis (waktu itu) untuk membuka kondisi dirinya yang hamil sebelum nikah.
Saya pikir, Yusuf tak kurang gundah juga. Apa yang dipikirkan dan dirasakan seorang pemuda, jika gadis yang dikasihinya tiba-tiba hamil, padahal dengan kesadaran penuh Yusuf belum pernah berbuat kurangajar terhadap kekasihnya. Saya yakin, tentu ada kecewa, ada marah, dendam juga mungkin.
Sekalipun kegundahan hati sepasang kekasih itu pada akhirnya terjawab dan terselesaikan, namun kemampuan untuk mengelola kegundahan hati keduanya layak untuk diberikan pujian. Tak gampang bagi sepasang kekasih jaman ini untuk mengkomunikasikan segala permasalahan yang mereka hadapi sehebat Maria dan Yusuf.
Dalam “bahasa yang rohani” kunci keberhasilan mereka berdua untuk mengatasi kegundahan hati adalah berserah kepada Tuhan, dan mau taat. Jadi Natal juga kesempatan bagi kita untuk membebaskan segala kehundahan hati seperti Maria dan Yusuf. (Sri Sutardi)

Tidak ada komentar: