Minggu, 14 Desember 2008

Bayi di Palungan

Bacaan: (Lukas 2:7)
Adalah suatu kewajaran jika sepasang manusia, laki-laki dan perempuan yang sudah resmi berkeluarga kemudian menantikan hadirnya seorang anak. Dan bila tanda-tanda kehamilan itu sudah muncul maka mereka akan sangat menjaganya sampai saat kelahiran itu bisa berjalan dengan selamat. Berbagai peristiwa akan mengiringi proses kelahiran. Dan itu biasanya akan disematkan pada nama sang jabang bayi, misalnya nama yang diberikan sama dengan nama dokter atau bidan yang menolong persalinan, tempat kelahiran, gabungan nama kedua orang tuanya, dll. Kemudian bagaimana dengan kelahiran Yesus?
Bayi itu ada di palungan. Bayi itu nantinya akan menjadi sosok “istimewa”. Kita selalu bertanya, mengapa Yesus harus mengalami itu? Yang terkesan adalah miskin fasilitas, penuh derita dan publikasi. Dunia tak akan pernah memahami itu. Tapi jika hati dan pikiran kita diurapi Roh Kudus kita akan mengerti bahwa Allah selalu mengajarkan pada kita hal-hal yang selalu tak terduga, menuntut kepasrahan manusia, iman yang sejati juga pelajaran yang utama yaitu kasih. Maka palungan dan bayi menjadi gambaran yang jelas dan utuh dari Allah bahwa kesederhanaan itu baik di hadapanNya.
Sederhana adalah kata kunci dalam kita menyambut bayi di palungan itu. Maka itu yang menjadi pijakan kita untuk merayakan natal. Tapi kita selalu dibenturkan dengan kewajaran di dunia ini. Pada umumnya kalau natal selalu ada baju baru, makanan yang berlimpah, hiasan gemerlap dan meriahnya. Tapi pernahkah kita merayakan natal hanya dengan hening seperti saat malam itu Maria melahirkan di kandang, tak ada yang mewah, baik pakaian apalagi makanan. Marilah kita mulai dengan natal yang sederhana, yang kesannya sepele, kecil dan tak menonjol tapi berkenan di hadapan Allah. Selamat Hari Natal dan Tahun Baru. Tuhan memberkati. (Asrie Lesningati)

Tidak ada komentar: